SELAMAT DATANG KE BLOG KAMI ANDA AKAN MENDAPAT INFO YANG BAIK DAN TERKINI

HAi sobat muda n para Mahasiswa/i tetap tumbuhkan Iman.

Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 26 Maret 2010

PENDIDIKAN PAK BAGI REMAJA

DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Tujuan
C.Lingkup Penulisan

BAB II PERKEMBANGAN
A.Perkembangan Motorik
B.Perkembangan Kognetif
C.Perkembangan Sosial Pribadi
D.Perkembangan Emosi
E.Perkembangan Komunikasi
F.Perkembangan Spritual

BAB III PAK BAGI REMAJA
A.Berbagai Masalah
B.Solusi Masalah
C.Profil Guru
D.Metode Mengajar
E.Sarana Prasarana

BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka
internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti yang luhur, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Penerapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK), sangat tepat dalam rangka mewujudkan model PAK yang bertujuan mencapai transformasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar memberikan ruang yang sama kepada setiap peserta didik dengan keunikan yang berbeda untuk mengembangkan pemahaman iman kristiani sesuai dengan pemahaman, tingkat kemampuan serta daya kreativitas masingmasing.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah dan mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam Kehidupan Anak-anak. Hakikat Pendidikan Agama Kristen (PAK) seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh”


B. Tujuan
Dalam penulisan makalah ini, penulis bertujuan:
a. Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan karya-karya-Nya agar peserta
didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya
b. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga
mampu memahami dan menghayatinya
c. Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara
bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.

C. Lingkup Penulisan
Lingkup Penulisan makalah ini, sebagai berikut :
Pendidikan Agama Kristen bagi Remaja

BAB II
PERKEMBANGAN REMAJA

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Maka remaja dalam perkembangannya saya jelaskan dibawah ini.

A. Perkembangan Motorik

Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.

Kuhlen dan Thomshon. 1956 (Yusuf, 2002) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu (1) system syaraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi; (2) otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3) kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis; dan (4) struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat dan proposi.

B. Perkembangan Kognetif
Pada usia ini, anak memasuki tahapan kematangan intelek. Dia mulai mampu berpikir jauh melebihi dunia nyata dan keyakinannya sendiri, yaitu memasuki dunia ide-ide. Tahap ini merupakan awal berpikir ilmiah. Contohnya, mereka dapat memakai pendekatan sistematis untuk memecahkan masalah dengan tidak hanya mendasarkan diri pada meniru orang lain. Mereka juga dapat berpikir reflektif, mengevaluasi pemikiran, imajinasi yang ideal, dan berpikir abstrak. Mereka juga dapat berpikir mengenai konsep, berpikir menggunakan proporsi dan perbandingan, mengembangkan teori dan mempertanyakan hal-hal yang bersifat etis.
Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium sensomotorik ini, intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Pada usia ini yang berlangsung adalah kegiatan bergaul dengan dunia lingkungan, dengan memakai pancainderanya untuk menangkap segala sesuatu yang bergerak di sekitarnya.
Pada periode ini juga memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.
Menurut pandangan teori pemrosesan informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan sumberdaya kognitif (cognitive resource). Peningkatan ini disebabkan oleh automaticity atau kecepatan pemrosesan (Case; Keating & MacLean; dalam Carlson, dkk. 1999); pengetahuan lintas bidang yang makin luas (Case, dalam Carlson, dkk. 1999); meningkatnya kemampuan dalam menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen-argumen logis (Moshman & Frank, dalam Carlson, dkk., 1999); serta makin banyaknya strategi yang dimiliki dalam mendapatkan dan menggunakan informasi (Carlson, dkk., 1999).

C. Perkembangan Sosial Kepribadian
Perkembangan sosial pada masa puber dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu mulai terbentuknya kelompok teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda dan mulai memisahkan diri dari orang tua.
Dalam masa perkembangan ini, seorang remaja mulai tergugah rasa sosial untuk ingin bergabung dengan anggota-anggota kelompok yang lain. Pergaulannya yang dulu terbatas dengan keluarga, tetangga dan teman-teman sekolah; saat ini dia ingin lebih meluaskan pergaulannya sehingga tidak jarang mereka meninggalkan rumah. Menurut Otto Rank, pada diri remaja terjadi perubahan yang sangat drastis, yaitu dari keadaan tergantung pada orang lain (dependence) pada masa kanak-kanak menuju kepada keadaan mandiri (independence) pada masa dewasa.

Menurut Hurlock (1996) tiga proses dalam perkembabangan sosial adalah sbb:
1. Berprilaku dapat diterima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilakunya sehingga ia bisa diterima sebagain dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut.
2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya.
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya.
3. Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok Sosialnya
Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.


1. Kelompok Teman Sebaya
Percepatan perkembangan pada masa puber berhubungan dengan pemasakan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya anak sudah mampu menjalin hubungan yang erat dengan teman sebaya. Seiring dengan itu juga timbul kelompok anak-anak untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas kelompok anak sebelum pubertas adalah bahwa kelompok tadi terdiri daripada jenis kelamin yang sama. Persamaan sex ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang berhubungan dengan perasaan identifikasi yang mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa puber anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai kegiatan.
Selama tahun pertama masa puber, seorang remaja cenderung memiliki keanggotaan yang lebih luas. Dengan kata lain, teman-teman atau tetangga seringkali adalah anggota kelompok remaja. Biasanya kelompoknya lebih heterogen daripada kelompok teman sebaya. Misalnya kelompok teman sebaya pada masa remaja cenderung memiliki suatu campuran individu-individu dari berbagai kelompok. Interaksi yang semakin intens menyebabkan kelompok bertambah kohesif. Dalam kelompok dengan kohesi yang kuat maka akan berkembanglah iklim dan norma-norma kelompok tertentu. Namun hal ini berbahaya bagi pembentukan identitas dirinya. Karena pada masa ini ia lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada mengembangkan pola pribadi. Tetapi terkadang adanya paksaan dari norma kelompok membuatnya sulit untuk membentuk keyakinan diri.
2. Melepas dari orang tua
Tuntutan untuk memisahkan diri dari orang tua dan menuju ke arah teman-teman sebaya merupakan suatu reaksi terhadap status intern anak muda. Sesudah mulainya pubertas timbul suatu diskrepansi yang besar antara kedewasaan jasmaniah dengan ikatan sosial pada milienu orang tua. Dalam keadaan seperti ini banyak pertentangan-pertentangan antara remaja awal dengan orang tua, diantaranya:
a. Perbedaan standar perilaku
Remaja awal sering menganggap bahwa standar perilaku orang tuanya kuno sedangkan dirinya dianggap modern. Mereka mengharapkan agar orang tuanya mau menyesuaikan diri dengan perilakunya yang modern.
b. Merasa menjadi korban
Remaja sering merasa benci kalau status sosial ekonominya tidak memungkinkan mempunyai simbol status yang sama dengan teman sebayanya.
Seperti pakaian, sepatu, accecoris,dll. Pada usia ini ia paling tidak suka jika diperintah mengerjakan pekerjaan di rumah.
c. Prilaku yang kurang matang
Biasanya orang tua mengembangkan pola menghukum bila para remaja mengabaikan tugas-tugas sekolah, melalaikan tanggung jawab dan jajan semaunya. Pelarangan dan menghukum membuatnya benci kepada orang tua.
d. Masalah palang pintu
Kehidupan sosial yang aktif menyebabkan ia sering melaggar peraturan. Seperti waktu pulang dan mengenai dengan siapa dia berhubungan, terutama dengan lawan jenis.
e. Metode Disiplin
Jika metode disiplin yang diterapkan orang tua dianggap tidak adil atau kekanak-kanakan maka remaja akan memberontak. Pemberontakan terbesar dalam keluarga terjadi jika salah satu orang tua dominan daripada lainnya. Hal ini menyebabkan pola asuh cenderung otoriter.
Di Indonesia perkembangan remaja masih ada keterbatasannya. Di satu sisi walaupun ingin melepas dari orang tua namun pada kebanyakan remaja awal masih tinggal bersama orang tua. Selain itu juga secara ekonomik masih bergantung kepada orang tua. Mereka juga belum bisa kawin, secara budaya hubungan seksual tidak diperkenankan sesuai dengan norma agama dan sosial, meskipun mereka sudah bisa mengadakan kencan-kencan dengan teman lain jenis. Mereka berusaha mencapai kebebasan dalam berpacaran. Mereka mempunyai kecenderungan yang sama untuk menghayati kebebasan tadi sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Hal ini berarti sebagai tanda kedewasaan, mereka mulai mengorbankan sebagian besar hubungan emosi mereka dengan orang tua mereka dalam usaha menjadi anggota kelompok teman sebaya.
Pada anak wanita pelepasan ini agak lebih sukar hal ini disebabkan adanya interaksi antara sifat kewanitaanya dengan nilai-nilai masyarakat di sekelilingnya. Di Indonesia khususnya dalam masyarakat Jawa anak wanita diharapkan untuk mencintai orang tua dan keluarga dalam arti yang lebih,misalnya merawat, memelihara dan bertanggung jawab terhadap rumah dan keluarga. Namun demikian bukan berarti bahwa anak wanita tidak mempunyai kesempatan yang sama dalam masyarakat.
Dalam masa remaja awal ini , keinginan untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya sendiri. Menurut Erikson ditinjau dari perkembangnan sosial menamakan proses ini sebagai mencari identitas diri, yaitu menuju pembentukan identitas diri ke arah individualitas yang mantap dimana hal ini merupakan aspek penting dalam perkembangan diri menuju kemandirian.
Usaha remaja awal dalam mencapai origininalitas juga sekaligus menunjukkan pertentangan terhadap orang dewasa dan solidaritas terhadap teman sebaya. Prinsip emansipasi memungkinkan bahwa kedua gerak antara menuju kemandirian dengan ketergantungan dengan orang tua menimbulkan jarak antar generasi (generation gap).

D. Perkembangan Emosi
Masa remaja awal atau masa puber adalah periode yang unik dan khusus yang ditandai dengan perubahan-perubahan perkembangan yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam rentang kehidupan. ”Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri,” mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Umumnya usia remaja awal ini berkisar antara 12 sampai dengan 14 tahun. Ciri-ciri yang penting pada masa puber adalah sbb:
1. Masa remaja awal merupakan masa tumpang tindih.
karena mencakup tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja. Sehingga perilaku yang ditampilkan agak sukar untuk dibedakan.
2. Masa remaja awal merupakan periode yang singkat
Dibandingkan dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dalam perkembangngan manusia maka masa puber merupakan periode yang paling singkat, yaitu sekitar dua sampai empat tahun.
3. Masa puber merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat.
Perubahan-perubahan yang sangat pesat ini akan menimbulkan dampak pada anak. Misalnya timbul keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman dan dalam beberapa hal memungkinkan timbulnya perilaku negatif.
4. Masa remaja awal merupakan masa negatif
Pada masa ini anak cenderung mengambil sikap anti terhadap kehidupan atau kehilangan sifat-sifat baiknya yang sebelumnya sudah berkembang. Kondisi ini merupakan sesuatu yang wajar. Beberapa ahli psikologi perkembangan menyebut ini sebagai masa negatifistik kedua.
5. Pada masa ini terjadi kematangan alat-alat seksual.
Dengan tumbuh dan kembangnya fungsi-fungsi organ maka ciri-ciri seks sekunder mulai berkembang, seperti mulai tumbuhnya rambut pubis, perubahan suara. Pada anak perempuan mulai memasuki masa menstruasi dan mulai tumbuhnya buah dada.
Masa remaja merupakan salah satu fase dari perkembangan individu yang terentang sejak anak masih dalam kandungan sampai dengan meninggal. Masa remaja memiliki ciri yang berbeda dengan masa sebelum atau sesudahnya, sehingga masa remaja menjadi menarik untuk dibicarakan. Usia masa remaja dimulai pada usia 11 tahun sampai dengan 18 tahun.
Problem sosial yang sering muncul pada masa ini adalah remaja lebih berkelompok dalam sebuah “gang” dimana rasa solidaritas remaja dituntut di dalam “gang” tersebut. Selain itu remaja juga cenderung merasa ingin untuk diperhatikan oleh orang lain dengan cara menonjolkan diri dan menaruh perhatian kepada orang lain. Dan juga remaja juga sering untuk menerima aturan serta berusaha menentang otoritas untuk urusan pribadinya.
E. Perkembangan Komunikasi
Perkembangan komunikasi pada usia remaja ini ditunjukkan dengan kemampuan berdiskusi atau berdebat dan sudah mulai berpikir secara konseptual, sudah mulai menunjukkan perasaan malu, pada anak usia sering kali merenung kehidupan tentang masa depan yang direfleksikan dalam komunikasi. Pada usia ini pola pikir sudah mulai menunjukkan ke arah yang lebih positif, terjadi konseptualisasi mengingat masa ini adalah masa peralihan anak menjadi dewasa.
Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah berdiskusi atau curah pendapat pada teman sebaya, hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu dan jaga kerahasiaan dalam komunikasi mengingat awal terwujudnya kepercayaan anak dan merupakan masa transisi dalam bersikap dewasa.


Cara komunikasi dengan anak
Komunikasi dengan anak merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga hubungan dengan anak,melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan mengambil berbagai data yang terdapat pada diri anak yang selanjutnya digunakan dalam penentuan masalah keperawatan atau tindakan keperawatan.
Sejak lahirnya, manusia tidak bisa dilepaskan dari komunikasi. Secara kodrati manusia harus hidup bersama dengan orang lain. Untuk itu, manusia membutuhkan cara untuk bisa berinteraksi dengan manusia lain. Bahkan sebuah penelitian mengemukakan 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Dengan komunikasi, kita membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, dimana yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang, kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.

Beberapa cara yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan anak, antara lain :
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan melibatkan orang tua secara langsung yang sedang berada di samping anak. Selain itu dapat digunakan cara dengan memberikan komentar tentang mainan, baju yang sedang dipakainya serta hal lainnya, dengan catatan tidak langsung pada pokok pembicaraan.
2. Bercerita
Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak dapat mudah diterima, mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang disampaikan hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang dapat diekspresikan melalui tulisan maupun gambar.
3. Memfasilitasi
Memfasilitasi anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini ekspresi anak atau respon anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam memfasilitasi kita harus mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan, tetapi anak harus diberikan respons terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh perhatian dan jangan merefleksikan ungkapan negatif yang menunjukkan kesan yang jelek pada anak.
4. Biblioterapi
Melalui pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan, dengan menceritakan isi buku atau majalah yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan kepada anak.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak, dengan meminta anak untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan anak dan keinginan tersebut dapat menunjukkan perasaan dan pikiran anak pada saat itu.
6. Pilihan pro dan kontra
Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukan atau mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pasa situasi yang menunjukkan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
7. Penggunaan skala
Penggunaan skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan perasaan sakit pada anak seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain, dengan menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
8. Menulis
Melalui cara ini anak akan dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada anak yang jengkel, marah dan diam. Cara ini dapat dilakukan apabila anak sudah memiliki kemampuan untuk menulis.
9. Menggambar
Seperti halnya menulis menggambar pun dapat digunakan untuk mengungkapkan ekspresinya, perasaan jengkel, marah yang biasanya dapat diungkapkan melalui gambar dan anak akan mengungkapkan perasaannya apabila perawat menanyakan maksud dari gambar yang ditulisnya.
10. Bermain
Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang di sekitarnya dapat terjalin, dan pesan-pesan dapat disampaikan.
F. Perkembangan Spritual
Bagi remaja, Allah adalah pribadi yang paling berperan dalam hidupnya. Dia menjadi sahabat yang paling karib. Di lubuk hati remaja, ada komitmen dan loyalitas yang sangat mendalam terhadap Allah tempat ia menimba seluruh kepercayaannya. Pada tahap ini, Allah juga dipandang sebagai “Allah kelompok” atau “Allah kolektif” yang konvensional. Lewat perantaraan Allah yang konvensional ini, remaja sanggup menyesuaikan diri secara konformistis dengan harapan dan penilaian orang serta kelompok yang sangat berharga baginya. Ia merasa terikat dengan Allah yang konvensional karena belum memiliki kemampuan batin untuk secara pribadi dan mandiri menyusun suatu gambaran tentang Allah berdasarkan gaya identitas diri yang mantap dan otonom, dan tidak tergantung sepenuhnya kepada orang lain. Menurut Fowler, bahwa :
taraf iman remaja ini disebut sebagai sintetis konvensional. Disebut sintetis karena tidak reflektif dan unsur-unsurnya tidak analitis, namun dipersatukan dalam keseluruhan struktur global. Disebut konvensional karena berbagai unsur keyakinan religius didapatkan dari orang lain, sehingga bersifat solider dan comform dengan sistem masyarakat. Aspek sintetis berperan dominan karena secara tidak sadar telah membentuk serta memengaruhi secara operatif seluruh kegiatan, perasaan, pikiran, motifasi, dan pilihan hidup si remaja.

Remaja membentuk sikapnya terhadap hidup melalui apa yang dipercayai oleh keluarganya sendiri, menuju kepada pandangan-pandangan di luar diri dan keluarganya. Ini disebabkan karena semakin luasnya perhatian maupun pergaulan para remaja. Oleh karenanya, para pendidik harus dapat menolong para remaja agar mereka dapat memperoleh orientasi di berbagai bidang secara lebih luas dan mengintegrasikan berbagai informasi maupun nilai-nilai untuk pembentukan kepribadian, identitas, maupun pandangan hidupnya. Sering kali tahapan ini disebut tahapan “membebek” atau konformis. Artinya, remaja hanya mengikuti yang dikatakan atau yang ditentukan oleh penilaian orang lain. Meskipun demikian, sering kali mereka ragu-ragu terhadap identitas diri, juga sering ragu-ragu terhadap kesanggupan diri untuk menilai yang baik dan yang tidak baik, yang benar dan yang tidak benar.
remaja mencapai atau tidak mencapai “sasaran” hidup yang tepat. Pada era modern saat ini yang ditandai dengan kemajuan teknologi, sering kali anak-anak remaja alam “petualangan”nya, menjadi seseorang yang kehilangan identitas. Kemampuan yang lemah dan kekurangsiapan dalam mengikuti dan memanfaatkan perkembangan zaman mengakibatkan seseorang remaja menjadi “korban teknologi”.

BAB III
PAK BAGI REMAJA


A. Berbagai Masalah
1. Pencaria jati diri ialah citra diri atau self image, gambaran diri kamu.
a. Pergaulan bebas
b. Norak
c. Berpacaran
d. Berbuat hal yang jahat “narkoba, berjudi, perkelahian dan emberontakan kepada yang lebih tua”
2. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Solusi Masalah
1. Kurikulum
• Untuk remaja yang sedang bertumbuh secara fisik berkenaan dengan masa pematangan seksual perlu diajarkan pokok "Seks Dalam Pandangan Alkitab".
• Remaja yang dari segi psikososial sementara sedang bertarung secara ideologis dengan berbagai macam tokoh dan isme sehingga perlu diperkenalkan mengenai Ajaran-ajaran Yesus dan tokoh Yesus sendiri dalam bahasa remaja dan bila perlu dibandingkan dengan tokoh-tokoh Alkitab yang mampu melawan/menentang hal-hal dosa seperti Yusuf, Daniel dan yang lain.
• Perlu juga diajarkan mengenai Terang dan Garam dunia guna melawan kekaburan peran dalam gereja.
Standar Kompetensi
1. Allah diciptakan manusia dengan organ tubuh yang lengkap dan dengan fugsi masing-masing dengan benar dan baik untuk kemuliaan Tuhan
- Manusia ada diciptakan dengan dua jenis kelamin yang berbeda dan Organ tubuh
- Fungsi jenis kelamin dan seks
- Pernikahan sebagai wadah untuk memberikan izin dalam seks.
2. Melewati godaan dosa dan Tokoh-tokoh Alkitab yang Sukses
- Kejahatan, kecemaran dan dosa
- Kehendak dan rencana Tuhan
- Tokoh-tokoh Alkitab : Yusuf, Daniel, Gideon dan lain-lain.
3. Manusia diciptakan untuk berbuat baik dan bagi kemuiaan Tuhan
- Percaya
- Kasih
- Diselamatkan
- Saks bagi orang lain

C. Profil Guru
1. Memliki lulusan dari Sekolah Tinggi Theologia yang membentuk karakter yang baik
2. Harus orang yang melayani.
3. Menjadi Model / teladan
4. Tidak pemabuk dan penjudi
5. Hanya satu istri.
6. Memiliki tanggung jawab yang tinggi dan integritas yang tinggi.
D. Metode Mengajar :
• ceramah
• tanya jawab
• seminar
• diskusi
E. Sarana Prasarana :
1. Tempat:
- Gereja (Kelas Remaja)
- Sekolah
- Rumah
- Masyarakat
2. Pendidik:
- Guru Sekolah Minggu Remaja/Jemaat
- Guru Agama Kristen
- Orang tua
- Masyarakat
3. Media - TV - Alat Peraga - Alat Bermain

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Maka remaja dalam perkembangannya sangat begitu ditakutkan karena masih rawan dengan pencarian jati diri. Itu sebabnya remaja perlu di bina, dengan pendampingan yang khusus.
B. Saran
Bagi keluarga yang memiliki anak yang beruasi 12-19 diharapkan untuk dijaa dengan perhatian yang baik.
Bagi remaja harus menyadari begitu banyaknya tantangan yang dapat banyak untuk mengganggu iman remaja.
Harus membuat materi yang khusus untuk menumbuhkan/membangun pribadi anak remaja.

DAFTAR PUSTAKA

http://css.docstoc.com/docs/1986588/02-PENDIDIKAN-AGAMA-KRISTEN-_C_/0208’98

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2008/07/aspek-aspek-perkembangan-perilaku-dan.html/

http://www.dpagbi.com/DetailMajalah.asp?recID=56/30 oktober 2008.

http://maradagv.wordpress.com/2008/04/12/bahan-ajaran-pak-%E2%80%9Cpola-hidup-remaja-kristen%E2%80%9D/12 April 2008/B. Marada Hutagalung

ttp://www.google.co.id/#hl=id&q=perkembangan+komunikasi+remaja&meta=&aq=&oq=perkembangan+komunikasi+remaja&fp=56fa12f0d8c65818 S. Bekti Istiyanto, S. Sos

http://dapetza2007.blogspot.com/2008/10/pendidikan-agama-kristen-pak-anak.html/

http://tumbuhkembanganak.edublogs.org/2008/05/26/perkembangan-kognitif-remaja/comment-page-1/May 26 2008

http://suhadianto.blogspot.com/2008/12/perkembangan-sosial-remaja.html/Rabu, 10 Desember 2008/Diposkan oleh SUHADIANTO

http://aflah.wordpress.com/2008/01/31/peran-keluarga-dan-sekolah-terhadap-perkembangan-emosi/

http://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/18/perkembangan-sosial-pada-masa-anak-anak-akhir-dan-remaja/June 18, 2008./ Novina Suprobo

disusun oleh : Osni Situmeang S.Th

Kamis, 25 Maret 2010

KELAHIRAN YESUS KRISTUS & SEJARAH DUNIA

Kamis, 25 Maret 2010
KELAHIRAN YESUS KRISTUS & SEJARAH DUNIA

D. James Kennedy dalam bukunya, “What If Jesus Had Never Been Born?”,
menyodorkan serentetan fakta-fakta akan dampak positif ajaran kristiani dalam sejarah dan gambaran yang tak bisa dibayangkan sedaikata Yesus tak pernah lahir. Salah satu fakta yang dipaparkan adalah sejarah akan lahirnya organisasi internasional “palang merah” (red cross)yang didirikan di pertengahan abad 19 sebagai hasil pengaruh pemikiran yang diwarnai oleh
nilai dan semangat kekristenan. Sejarah* mencatat lahirnya “palang merah” ini tidak lepas dari pengaruh seorang kristen warga negera Swiss, bernama Henry Dunant (1828-1910) yang menyaksikan perang mengerikan antara pasukan Prancis dan Italia melawan pasukan Austria di Solferino, Italia Utara pada tanggal 24 Juni 1859. Tidak kurang 40.000 tentara terluka menjadi korban perang,sementara bantuan medis tidak cukup merawat korban sebanyak itu. Tergetar penderitaan tentara yang terluka, pemuda ini bersama penduduk setempat mengerahkan bantuan menolong mereka. Setelah kembali ke Swiss, dia menuangkan kesan dan pengalamannya ke dalam buku berjudul "Kenangan dari Solferino" menggemparkan Eropa.
Di buku itu Dunant mengajukan dua gagasan. Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk
menolong prajurit yang terluka di medan perang. Kedua, mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera dan sukarelawan serta organisasinya yang menolong saat terjadinya perang.Pada 1863, Dunant bersama keempat kawannya merealisasi gagasan tersebut dengan mendirikan komite internasional untuk nantuan para tentara yang cedera, sekarang disebut Komite Internasional Palang Merah atau Committee of The Red Cross (ICRC) merupakan lembaga kemanusiaan bersifat mandiri, sebagai penengah dan netral. Dan pada tahun 1901,beliau menerima Hadiah Nobel. Demikianlah salah satu dampak positif dari kehadiran dari ajaran Kristen di tengah dunia. Sebagaimana D. James Kennedy menyimpulkan, “Andai bukan karena Ajaran Kristen,maka tidak akan ada Palang Merah”. Itulah salah satu contoh dampak kelahiran Yesus atas sejarah umat manusia, dimana kita tidak dapat menginterpretasikannya lepas dari sudut padang Kristiani, dimana Yesus lah pemeran utamanya. Yesus sudah datang dan akan datang kali kedua. Dan di dalam kurun waktu tersebut, sejarah sedang terus terukir, dimana sebagai orang beriman, kita tahu pada akhirnya akan terjadi sebuah aklamasi semesta raya, dimana Yesus Kristus sungguh adalah Raja di atas segala raja, dimana “bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku,‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Fil. 2:10-11). Sebuah perenungan bagi kita saat ini, sejauh mana kita sudah memberi dampak positif di lingkungan sekitar kita?
Kiranya Tuhan membangkitkan lebih banyak orang Kristen lagi, termasuk Anda, untuk
mengubah dunia ini menjadi lebih baik demi hormat dan kemuliaan namaNya.
Pelayanan Misi
BERDOA untuk Suku-suku Melayu Riau seperti Bangka , Belitung, Melayu Riau dan Talang
Mamak. Doakan untuk orang2 Kristen yang sudah berada diantara mereka agar terbeban
utk menjangkau orang2 ini. Doakan juga untuk Pelayan Tuhan yang mau melayani di suku-
suku ini.
BERDOA BAGI MISI
BERDOA BAGI MISI di Indonesia, khususnya bagi suku-suku UPG. Berdoa agar Tuhan yang
terus membukakan hati mereka agar mau menerima Injil. Doakan juga bagi para misionaris
yang melayani.
BERDOA untuk suku Sunda yang adalah suku UPG terbesar di Indonesia. Doakan untuk
kurang lebih 100 Gereja yang terdiri dari jemaat asli suku ini agar lebih menjangkau
mereka. Doakan agar sarana misi seperti Alkitab yang sudah tersedia dalam bahasa Sunda
dapat digunakan untuk terus membantu Suku Sunda mengenal Yesus Kristus.
BERDOA untuk suku2 dari rumpun Maluku. Ada banyak orang yang belum percaya meski
berada di tengah komunitas Kristen. Doakan biar ada pengampunan dan kasih di tengah2
masyarakat yang mengalami trauma dari kerusuhan SARA thn 2000 -2004. Doakan agar
pemerintah lebih serius untuk memajukan daerah Maluku ini terutama dalam bidang
pendidikan.

DOAKAN GEREJA
DOAKAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
GEREJA DI INDONESIA agar boleh peka akan panggilannya sebagai
garam dan terang dunia. Doakan agar gereja boleh berperan strategis secara nyata/ konkret dalam menjawab pergumulan bangsa.
DOAKAN PEMERINTAH PUSAT & DAERAH
DOAKAN PEMERINTAH PUSAT & DAERAH agar semakin banyak lahir para pemimpin
bangsa yang memiliki kualitas, integritas dan komitment yang tinggi dalam menjalani
amanah rakyat.
Doa untuk Dunia
DOAKAN SUPAYA PENANGANAN ISU PEMANASAN GLOBAL (global warming) baik yang
dilakukan secara lingkup individu, kelompok maupun kerjasama antar negara.
DOAKAN KRISIS KEUANGAN GLOBAL
DOAKAN KRISIS KEUANGAN GLOBAL. Doakan agar para pemimpin dunia diberi hikmat
agar dapat menentukan langkah terbaik dalam kondisi ini untuk kebaikan bagi banyak
orang, bukan kebaikan kelompok tertentu. Doakan agar anak-anak Tuhan terus diberi
kekuatan bahwa Tuhan akan mencukupi kehidupan mereka dalam menghadapi kondisi
terburuk sekalipun.

Pengakuan Iman Rasuli
Aku percaya kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa, Khalik langit dan bumi; dan kepada
Yesus Kristus, anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung daripada Roh Kudus,
lahir dari anak dara Maria, yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, mati dan dikuburkan, turun kedalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga
bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang
mahakuasa, dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang
mati. Aku percaya kepada Roh Kudus; gereja yang kudus dan am; persekutuan orang
kudus; pengampunan dosa; kebangkitan daging; dan hidup yang kekal.
Doa Bapa Kami
Bapa kami yang di sorga. Dikuduskanlah nama-MU. Datanglah Kerajaan-MU. Jadilah
kehendak-MU di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang
secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni
orang yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena ENGKAU lah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. AMIN.

YESUS KRISTUS PEMBUAT SEJARAH YANG LUARBIASA.

SEPULUH TELADAN YESUS SEBAGAI PEMIMPIN

Mental seorang pemimpin diperlukan oleh siapapun yang ingin mulai meniti tangga kesuksesan. Untuk itu orang biasanya mencari teladan atau idola, yaitu para pemimpin yang dapat ditiru kiat-kiatnya dan dipelajari mentalitasnya. Bagi orang Kristen, kepemimpinan dimulai dari meneladani karakter dan mental pemimpin dari tokoh terpenting dari kekristenan, yaitu Kristus.

Kristus adalah seorang pemimpin yang hebat, kalau tidak bisa disebut yang paling menakjubkan. Selama masa hidup-Nya di bumi, Kristus telah memulai tiga tahun pelayanan-Nya menjadi sesuatu yang saat ini telah menjadi sebuah gerakan mendunia yang mengubah sejarah. Saat ini lebih banyak orang yang mengikuti Dia daripada pemimpin-pemimpin lainnya yang pernah dan masih hidup di dunia.

Sebagai teladan, Yesus telah memberikan berbagai prinsip yang penting dalam membentuk seorang pemimpin, dan lewat hidup-Nya terkuaklah contoh-contoh nyata yang dapat kita tiru dan terapkan dalam hidup kita. Apa saja yang Yesus ajarkan dan praktikkan? Dr. Tim Elmore menjabarkan hal tersebut dalam www.growingleaders.com:

Bagi Yesus, pemimpin = pelayan ------------------------------ Di acara-Nya yang terakhir bersama seluruh murid, yaitu Perjamuan Terakhir, Yesus membasuh kaki para murid, termasuk Yudas yang nantinya akan berkhianat. Yesus mengetahui posisi-Nya sebagai pemimpin, tetapi tidak melupakan panggilan-Nya untuk melayani. Ia patuh dan setia pada tujuan pelayanan-Nya. Ia mengetahui masa depan dan Ia bersedia menerimanya. (Referensi: Markus 8:35; Matius 20:25; Matius 23:11)

Tujuan-Nya harus menjadi prioritas utama hidup ---------------------------------------------- Dalam banyak hal, seluruh hidup dan pelayanan Yesus adalah tentang memprioritaskan hidup dan menjalani setiap prioritas itu. Ketika Ia bicara, "Biarkan yang mati menguburkan yang mati," Yesus bicara tentang perlunya berkonsentrasi pada tujuan kita yang paling penting dan tidak mengalihkan perhatian kita pada situasi darurat sekalipun (Matius 8:22). Ketika Lazarus meninggal, Yesus tetap fokus pada apa yang sedang Ia kerjakan, dan tidak pergi mengunjungi Lazarus sampai dua hari kemudian. Yesus berjalan dalam misi-Nya. Ini artinya, kepemimpinan kita harus digerakkan bukan oleh keinginan orang-orang di sekitar, melainkan oleh tujuan hidup kita. (Referensi: Lukas 19:10; Matius 6:33)

Pimpinlah diri sendiri sebelum memimpin orang lain -------------------------------------------------- Ajaran Yesus adalah: jadilah dulu sesuatu sebelum melakukannya pada orang lain. Tanpa banyak bicara, Yesus menyembuhkan orang buta, orang kusta, orang pincang, orang tuli; Ia membiarkan setiap karya- Nya berbicara untuk diri-Nya. Ia tahu bahwa orang-orang akan meniru apa yang mereka telah lihat, tapi belum tentu apa yang mereka dengar. (Referensi: Lukas 7:22; Yohanes 14:11)

Perubahan datang dari hubungan, bukan dari posisi ------------------------------------------------- Yesus mengerti benar pentingnya membangun hubungan. Ia tidak mendirikan tahta di tengah kota dan berkata, "Inilah istana-Ku. Inilah satu-satunya tempat di mana kalian bisa melihat Aku." Sebaliknya, Ia malah pergi ke pasar, ke pelabuhan, ke berbagai sinagoge dan memulai pelayanan-Nya dari sana. Ia bahkan mengunjungi rumah orang-orang biasa. Jadi Ia pergi ke berbagai tempat dan membangun hubungan yang baik dengan setiap orang yang Ia kunjungi, tanpa memedulikan posisinya. (Referensi: Yohanes 4:5-30; 8:1-11)

Pemimpin harus mampu mengisi dirinya sendiri -------------------------------------------- Hidup itu keras dan berat. Semakin kita sukses dan semakin banyak orang yang kita pimpin, semakin banyak hal yang mereka inginkan dari kita. Kita harus mampu memperlengkapi diri dengan berbagai hal yang mereka minta. Beberapa kali Yesus pergi menyendiri dan mencari tempat untuk melakukan introspeksi dan berdiam diri. Dengan cara itu Ia berbicara dengan Bapa-Nya dan mendapatkan lagi asupan `bahan bakar` untuk memperlengkapi diri-Nya menghadapi berbagai tantangan ke depan. (Referensi: Markus 3:7-10; Lukas 4:42-43)

Pemimpin harus membuat pengikutnya berani mengambil komitmen ------------------------------------------------------------ Yesus memiliki produk yang paling dahsyat yang pernah ada, yaitu: KESELAMATAN. Ia menawarkan kesempatan pada manusia untuk memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Ia berbicara tentang surga dan malaikat, kegembiraan dan kedamaian, dan istana yang megah. Tapi Ia tak pernah sekalipun memberikan gambaran yang terdistorsi. Ia memberi peringatan pada pengikut-Nya bahwa nanti akan terjadi penyiksaan dan kesulitan hidup pada diri mereka. Namun Yesus tidak pernah lupa mempersiapkan para pengikut-Nya untuk saat-saat berat seperti itu. (Referensi: Yohanes 6:53; Matius 16:24)

Pemimpin memberi rasa aman dan kekuatan saat menangani persoalan yang berat ---------------------------------------------------------------- Yesus memberikan contoh nyata pada para pengikut-Nya, bagaimana menangani persoalan-persoalan yang berat: Ia bangun pagi-pagi sekali dan berdoa meminta panduan dari Bapa-Nya. Ia tetap tenang dan terkendali selama mengalami saat-saat yang sulit. Yesus tidak mencari masalah dengan para musuh-Nya, tapi Ia tidak pernah menunda untuk memberi teguran atas setiap kesalahan, tapi juga memberikan contoh bagaimana seharusnya bertindak. Dan yang terpenting, Yesus berhasil, dengan segala kekuatan-Nya, menyelesaikan pelayanan yang telah Ia mulai. (Referensi: Lukas 20:20-26; Matius 22:23-46)

Pemimpin yang hebat memimpin di tingkatan yang lebih tinggi ----------------------------------------------------------- Yesus memimpin di tingkatan yang lebih tinggi daripada yang lainnya, dan ia meminta para pengikut-Nya membuat komitmen yang tingkatannya juga lebih tinggi dari biasanya. Yesus telah menunjukkan pola kepemimpinan yang tidak cukup dengan segala hal yang biasa-biasa saja. Pemimpin tidak boleh hanya lewat begitu saja, atau mengolah apa yang sudah ada. Yesus tahu bahwa kredibilitas seorang pemimpin muncul dari kemampuannya menyelesaikan masalah. Ia memimpin orang- orang menuju suatu hidup baru yang tidak mungkin pernah dicapai lewat usaha manusia saja. (Referensi: Yohanes 16:33; Matius 16:24)

Pemimpin memilih dan mengembangkan anak buahnya yang inti --------------------------------------------------------- Setiap pemimpin yang efektif tahu satu hal: sukses diperoleh lewat orang-orang terdekatnya. Pemimpin yang efektif tidak menyerahkan masalah yang satu ini kepada keberuntungan saja. Menjadi seorang pemimpin berarti memilih siapa saja yang akan menjadi bagian dari timnya, sekaligus memberikan perhatian yang intens kepada mereka yang akan memainkan peran-peran penting dalam tim itu. Yesus tidak pernah mengambil keputusan dengan cara voting; Ia selalu memikirkan setiap pilihan yang akan diambil-Nya dengan matang terlebih dulu. Ia bahkan berdoa sepanjang malam sebelum Ia memilih keduabelas rasul. Secara konsisten, Yesus menantang orang-orang untuk mengambil langkah-langkah komitmen yang lebih dalam untuk memberitakan Kerajaan-Nya. Yesus memiliki prinsip dalam membentuk tim. Prinsip ini melibatkan seleksi yang serius, komunikasi yang intens, pemberian tanggung jawab, pengawasan yang ketat, dan keteladanan yang harus ditiru dan dilaksanakan oleh setiap anggota tim-Nya. (Referensi: Lukas 10:1; Matius 10:1)

Tidak ada sukses jika tidak ada penerus --------------------------------------- Bahkan di masa awal pelayanan-Nya, Yesus memberitahukan para pengikut-Nya bahwa Ia hanya akan berada bersama-sama mereka untuk waktu yang sangat singkat. Dari waktu ke waktu mereka sering mempermasalahkan masa pelayanan-Nya yang terbatas itu. Ia menjelaskan namun juga tetap meyakinkan mereka bahwa kepergian-Nya nanti bukan sesuatu yang salah. Dari sejak awal, Yesus telah mempersiapkan mereka untuk tetap hidup meskipun Ia telah pergi ke surga. Ia memberi teladan untuk selalu mengandalkan Roh Kudus dan terus mempengaruhi sesama. Tongkat estafet harus diteruskan ke pelari berikutnya, bukan dibawa pulang. (Referensi: Matius 28:18-20; Yohanes 20:21-22)

Tidak sulit bukan, menjadi seorang pemimpin itu? Yang paling berat biasanya adalah saat memulainya. Tapi setelah itu, dengan disiplin dan niat yang kuat, jejak-jejak kepemimpinan Kristus bisa segera Anda terapkan. Mulailah dari sekarang!

By : OSNI SITUMEANG. S.Th.